TENTANG KAMI

MASJID DARUSSALAM

Coboy Masjid Darussalam

Terus belajar, belajar dan belajar.

Masjid Darussalam berdiri sejak tahun 1957 dengan bangunan yang berbentuk panggung berbahan kayu dan bilik dindingnya. Pada masa PKI, kisaran tahun 1965 Masjid Darussalam mulai difungsikan untuk mencari ilmu para santri.

 

Diwakafkan oleh almarhumah Ibu Hj. Epon Warqiah Binti Sukarta. Orang yang pertama memberi nama masjid ini sebagai Masjid Darussalam adalah Kang Nduy, yang asalnya bernama Masjid Assalam yang hingga kini telah berubah namanya menjadi Masjid Darussalam.

 

Setelah pengajian para santri sudah berjalan, dilanjutkan dengan pengajian ibu-ibu dari masyarakat sekitar. Sebelum mendapatkan jadwal yang hingga kini berjalan, Bapak KH. Rosidin sebagai pimpinan Yayasan KADAR, meminta petunjuk dari gurunya di Garut yang bernama Ajengan Yusup Tohiri. Akhirnya Ajengan Yusup memberikan titah untuk jadwal pengajian ibu-ibu di Masjid Darussalam pada hari Selasa, dan jadwal tersebut hingga hari ini masih terus dijalankan. Pada tahun itu pula Masjid Darussalam mulai dipakai oleh masyarakat untuk melaksanakan ibadah shalat jum’at.

 

Pada tahun 1975 Masjid Darussalam direnovasi menjadi bangunan yang permanen dan menjadi masjid paling megah di masa tersebut. Di tahun 1987 Masjid Darussalam kembali dibangun menjadi tingkat dua dengan kerjasama masyarakat sekitar.

 

Sejak terakhir direnovasi, Masjid Darussalam baru dipercantik lagi tahun 2019. Mengimbangi jamaahnya yang meluas tidak hanya di sekitaran Kampung Warung. Masjid Darussalam tidak jarang menjadi tempat kegiatan yang cakupannya kecamatan.

 

Kegiatannya pun semakin beragam. Selain pengajian rutinan yang terus berjalan, Masjid Darussalam menjadi tempat koordinasi para ulama muda dan DKM sekecamatan, tempat beragam acara dari motivasi kepemudaan hingga pelatihan metode pengajian.

 

Kini tampuk kepemimpinan dilanjutkan oleh putra Bapak KH. Rosidin, yaitu A Acep Hilman Miftahurojak. Ajengan muda yang lama mengenyam ilmu 13 tahun di Ponpes Cipasung Tasikmalaya.

 

Dengan semangat dan segala kreativitasnya, A Acep menjadikan Masjid Darussalam lebih semarak lagi. Dari Masjid Darussalam lahir komunitas-komunitas yang unik; mulai dari COMASDAR (Coboy Masjid Darussalam) yang mengeluarkan 1 buah album nasyid dan juara di berbagai kesempatan sampai tingkat nasional.

 

Lahir pula Gerakan Husnuzhon, sebuah gerakan kepemudaan yang aktif mengampanyekan Husnuzhon sebagai gaya hidup. Santri-santrinya pun dari berbagai latar pekerjaan, mulai dari kalangan mahasiswa dari berbagai universitas, karyawan, pengusaha, dll.

Shares