Kisah Pendeta Yahudi Zaid Bin Sa'nah Menguji Nabi Muhammad ﷺ - COMASDAR

Kisah Pendeta Yahudi Zaid Bin Sa’nah Menguji Nabi Muhammad ﷺ

Written by
Kitab Muhammad ﷺ Insan Kamil

Sebuah Kisah dari Kitab Muhammad ﷺ Insan Kamil, Manusia Sempurna.

Pada suatu hari Rasulullah ﷺ keluar bersama sahabat-sahabat baginda, di antaranya Ali bin Abi Thalib r.a.

Tiba-tiba datang menemui beliau seorang Badwi dengan berkenderaan, lalu berkata; “Ya Rasulullah, di kampung itu ada sekumpulan orang yang sudah memeluk Agama Islam dengan mengatakan bahwa jika memeluk Islam, mereka akan mendapat rahmat dan rezeki dari Allah.

Tetapi sesudah mereka semua memeluk agama Islam, terjadilah musim kering dan panas, sehingga mereka ditimpa bahaya kelaparan. Aku khawatir ya Rasulullah, jika mereka kembali kufur meninggalkan Islam kerana soal perut, karena mereka memeluk Islam pun dengan soal perut. Aku ingin agar engkau mengirimkan bantuan untuk mengatasi bahaya kelaparan yang menimpa mereka itu.”

Mendengar aduan Si Badwi, Rasulullah s.a.wﷺ lalu memandang Ali bin Abu Thalib. Ali mengerti maksud pandangan itu sambil berkata, “Ya Rasulullah, tidak ada lagi bahan makanan pada kita.”

Zaid bin Sa’nah, seorang Pendeta Yahudi yang turut mendengarkan laporan orang Badwi dan jawaban Ali bin Abu Thalib lalu mendekatkan dirinya kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, “Wahai Muhammad, kalau engkau suka, akan saya belikan kurma yang baik lalu kurma itu dapat engkau beli padaku dengan hutang dan dengan perjanjian begitu, begini.”

Berkata Rasulullah ﷺ, “Jangan dibeli kurma itu sekiranya kau berharap aku berhutang kepadamu, tetapi belilah kurma itu dan berilah kami pinjam darimu.”

“Sepakat.” jawab Zaid bin Sa’nah.

Zaid bin Sa’nah pun membeli buah kurma yang baik-baik lalu menyerahkan kepada Rasulullah ﷺ dengan perjanjian-perjanjian tertentu dan akan dibayar kembali dalam jangka waktu yang tertentu pula. Rasulullah ﷺ menerima kurma itu, lalu diarahkan supaya buah kurma tersebut diserahkan dan dibagikan kepada penduduk kampung yang ditimpa bencana itu.

Sebagian masyarakat mengenal Zaid bin Sa’nah tidak hanya sebagai pedagang, tetapi juga ahli kitab. Dia pakar Taurat, sehingga amat dihormati kaum Yahudi di Madinah. Walaupun mengetahui kabar kenabian Rasulullah ﷺ, sebagaimana dinubuatkan Taurat dan Injil, Zaid enggan menyatakan Islam, sebelum menemukan keseluruhan tanda-tanda karakter kenabian pada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam. Semua sifat kenabian telah ia temui pada Nabi Muhammad, kecuali 2 sifat.

Maka begitu Rasulullah ﷺ berutang kepadanya, Zaid mengambil kesempatan ini untuk menguak 2 sifat yang tersisa. Jika 2 sifat ini ada pada Muhammad bin Abdullah, maka benarlah ia seorang Nabi, begitulah rencana Zaid bin Sa’nah.

Hari demi hari berlalu. Nabi ﷺ suatu waktu memimpin majelis ilmu di Masjid Nabawi. Rumah ibadah itu penuh sesak oleh para sahabat yang dengan penuh perhatian menyimak ceramah Rasulullah ﷺ.

Tiba-tiba, datanglah Zaid bin Sa’nah melalui pintu masjid. Dia lantas meminta celah, agar bisa sampai ke shaf terdepan. Banyak kaum Muslimin di sana belum mengetahui siapa pria yang tampaknya sedang terburu-buru itu.

Bukannya langsung duduk, Zaid yang kini sudah di shaf terdepan justru berdiri tepat di belakang Rasulullah ﷺ. Dia lalu menarik kain serban Nabi ﷺ yang melingkar di lehernya, sehingga beliau seketika tercekik, dan berkata kepadanya dengan sekasar-kasarnya. “Hai Muhammad, bayar hutangmu kepadaku, aku tahu bahawa seluruh keluarga Abdul Mutalib itu selalu melengah-lengahkan masa untuk membayar hutang!”

Seluruh sahabat otomatis berdiri, seperti hendak menyerang pria asing ini. Umar bin Khaththab yang berada dekat sekali dengan Nabi ﷺ, wajahnya merah padam murka pada tindakan Zaid, dan berkata, “Hai musuh Allah, engkau berkata begitu kasar terhadap Rasulullah dan berbuat tidak sopan.  Ya Rasulullah, izinkanlah saya untuk memenggal kepala orang ini!” Umar menatap Zaid dengan wajah menahan amukan murka.

Nabi ﷺ  tersenyum pada Sayyidina Umar, dan memberi isyarat dengan tangannya agar Umar dan seluruh hadirin tenang. Masih dalam keadaan tercekik, beliau lantas menoleh ke arah Zaid.

“Wahai Yahudi, ada apa?” kata beliau–tanpa mengungkapkan nama Zaid bin San’ah.

“Kau berutang padaku, Muhammad! Dan aku tahu, kalian ini orang Quraisy sangat suka menunda-nunda pembayaran utang,” kata yang ditanya.

“Bukankah belum tiba tenggat waktu pembayaran?” tanya Nabi ﷺ lagi.

“Saya tidak peduli. Bayar utangmu sekarang juga!” seru Zaid lagi, sembari melepas serban Nabi SAW.

Maka Rasulullah ﷺ berpaling kepada Umar dan berkata, “Hai Umar, pergilah bersama dia ke tempat penyimpanan kurma, bayarlah hutang itu kepadanya dan tambahlah 20 gantang sebagai hadiah untuk menghilangkan rasa marahnya.”

Singkat cerita, Umar pun keluar dari masjid dan berjalan menuju penyimpanan kurma. Dia diikuti oleh Zaid dari belakang.

Sepanjang perjalanan, Umar mencoba meredam kekesalan. Bagaimana mungkin seorang Yahudi bisa dengan pongahnya mencekik Rasulullah SAW tepat di depannya? Ingin betul Umar melampiaskan amarahnya ke orang yang sedang berjalan di belakangnya itu.

Bagaimanapun, ketaatan Umar kepada Nabi ﷺ jauh lebih besar. Sampailah Umar dan Zaid di tempat penyimpanan. Sahabat bergelar al-Faruq itu lantas menyiapkan dua karung. Masing-masing akan diisi 20 sha kurma.

Karung pertama yang tuntas diisi lantas diberikannya kepada pria Yahudi itu. Sementara Umar sedang mengisi karung kedua, sang pencekik Nabi ﷺ tadi mencegahnya.

“Wahai Umar. Tahanlah. Jangan kau masukkan kurma ke karung itu,” katanya.

Umar tidak peduli, “Aku hanya melaksanakan perintah Nabi! Aku tidak ingin mendengarmu! Tambahan ini sebagai imbangan kemarahanmu.”

“Wahai Umar, apakah kau tidak mengenalku?”

“Aku tidak peduli!” jawab Umar dengan ketus.

“Aku adalah Zaid bin San’ah.”

Mendengarnya, Umar seketika terkejut, kemudian berdiri menghadapnya. “Apakah benar kamu Zaid bin San’ah!? Zaid yang pendeta Yahudi, ahli Taurat?” tanya Umar setengah tak percaya.

“Benar. Akulah Zaid bin San’ah,” jawab si Yahudi dengan tenang.

“Kau! Bukankah kau tahu bahwa Muhammad adalah utusan Allah!? Kenapa engkau berlaku demikian rupa terhadap Rasulullah? Engkau berlaku begitu kasar dan begitu menghina?” tanya Umar lagi.

“Benar. Aku mengetahuinya. Tapi, coba engkau pikir, wahai Umar. Bagaimana mungkin aku nekad mencekik dirinya di depan kalian, umat Islam yang mengimaninya sebagai nabi? Bahkan aku melakukannya seorang diri dan di dalam masjid kalian. Apa engkau pikir aku sudah gila?” ujar Zaid.

“Mengapa kau melakukannya?” tanya Umar.

“Sungguh, sebelum tadi aku datang ke masjid kalian, segala tanda kenabian yang aku dapati dalam kitab Taurat sudah aku temui pada diri Rasulullah itu. Selain dua perkara yang aku sembunyikan dan tidak aku sampaikan kepada Rasulullah iaitu bahawa perasaan santunnya selalu mengalahkan perasaan marahnya. Makin marah orang kepadanya, makin bertambah rasa kasih sayangnya terhadap orang yang marah itu.” jelas Zaid.

“Maka dari itu, aku nekad melakukan hal tadi. Aku tahu, utang Muhammad belum jatuh tempo. Aku sengaja memancing emosi Muhammad dan kalian, para sahabatnya. Aku sudah bertekad mempertaruhkan nyawaku hanya untuk membuktikan kebenaran, adakah tanda kenabian yang terakhir itu pada diri Muhammad.”

“Dengan kejadian itu hai Umar yang sengaja kuatur, aku sudah tahu dan lihat sendiri kedua sifat itu terdapat pada diri Muhammad itu. Dia tak marah, dan tetap dengan kesantunannya. Bahkan bertambah mengasihiku yang mengamuk padanya dengan menambah timbangan kurma. Aku bersumpah di depanmu hai Umar, bahawa aku sungguh-sungguh suka dan redha dengan Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku dan Muhammad sebagai nabi dan ikutanku.” tegas Zaid bin San’ah.

Umar dan Zaid bin Sa’nah pun kembali menuju Rasulullah s.a.w. Setibanya berhadapan dengan Rasulullah s.a.w, lalu berikrarlah Zaid bin Sa’nah, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba Allah dan RasulNya.”

Zaid bin Sa’nah turut berjuang dan bertempur bersama Rasulullah ﷺ dan kaum muslimin hampir di setiap medan perang dan akhirnya mati syahid di medan Perang Tabuk.

Article Categories:
Kisah-Kisah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Shares